Jumat, 21 Februari 2014

Karena Aturan Untuk Dipatuhi



"Vehicle passengers only!!! Vehicle passengers only, pleeeeease!!!"

Teriak awak kapal ferry yang membawa penumpang dari Picton di pulau bagian selatan menyeberang ke kota Wellington di pulau bagian utara negara Selandia Baru pada Hari Rabu tanggal 15 Januari tahun 2014 itu. Aku terlanjur sudah turun di deck lantai 3, tempat para penumpang berbaris mau keluar. Ferry 'interislanders' itu sudah merapat di dermaga indah Kota Wellington di Selandia Baru. Sepintas memoriku melayang ke dermaga, water dront di cape town di Africa Selatan, yang dulu pernah aku singgahi. Mirip tapi tak sama. 

Dari kapal kulayangkan mata ke jendela yang dekat aku berdiri. Wow! Langit biru. Air bersih. Dermaga ini pun jernih sebening kaca, kapal2x kecil, yatch, berwarna putih bersih berlabuh rapi dipinggir pelabuhan ini. Udara sore itu juga cukup banyak disinari matahari dan membuat langit berwarna biru cerah dengan diselingi awan2x putih seperti kapas putih bergerombolan. Aku semakin ingin cepat keluar dari kapal ini dan segera berjalan kaki menelusuri pinggiran pelabuhan kota ini. Tidak boleh terlewatkan. Kebiasaanku adalah berjalan kaki berjam-jam di kota baru yang aku singgahi, apalagi jika kota dengan udara super bersih dan sangat bersahabat dengan penjalan kaki. Sangat menyenangkan. Seperti berjalan di alam mimpi, terutama bagi aku yang tinggal ditengah kemacetan dan polusi Kota Jakarta.  Jangankan manusia, lalatpun sepertinya enggan meganggu orang di jalanan umum di kota sejuk ini. Benar-benar indah kota ini. Tidak ada macet apalagi polusi yang merusak diri.  

Bule laki separuh baya yang berseragam seperti pilot itu kembali berteriak dan kali ini lebih kencang lagi. Setelah aku amati beberapa menit dan berdiri diantara penumpang yg terus bergerak ke deck lebih bawah. Terbersit dipikiran aku  dan terjadi dialogue di batinku sendiri: 'bagaimana kalau aku ikut aja dengan barisan penumpang ini keluar. Kan makin cepat keluar dari kapal ini, makin cepat aku bisa menikmati kota dan bisa santai berjalan kaki sambil mencari hotel CQ Comfort di tengah kota Wellington di Cuba Street' . ' tapi wait! terlintas dipikiranku. Apa arti vehicle passengers. Apa artinya untuk penumpang yang pakai kendaraan saja? Tapi kok banyak wajah-wajah asing juga seperti wajah china, india dan beberapa mimik muka turis yg melengak-lengok seperri aku ya? '  'Ah, barangkali aku coba aja ikut arus ini saja, makin cepat kan makon baik utk bisa keluar, sudah terlanjur' batinku. 

Pikiran isengku mulai bermain-main mencoba test ini dan itu. Akun mulai berpikir. 'Apakah aturan disini memang harus diikuti? Kalau tidak gaimana? Apa konsekuensinya? Bikin senang atau susah sebagai konsekuensinya' coba aja di tes dari hal begini. Resiko ya tidak akan fatal, palimg diplototin atau dimarahin petugas itu.  Soalnya, setelah beberapa hari disini, aku sangat kagum dengan perilaku penduduk negara ini, sejak kedatanganmu di Auckland, lalu ke Tauranga kota kecil di pinggiran  bagian ujung pulau bagian selatan hingga Crhristchurch di bagian utara. Sangat sopan dalam menyetir  mobil, pejalan kakipun umumnya sangat patuh pada lampu dan marka jalan. Sungguh perilaku mulia. Pengendara mobil menghormati pejalan kaki, pejalan kaki tidak serobot jalan seenaknya. Memang sih tidak ada Bajaj dan sepeda motor yang bisa seenaknya di jalan raya seperti di Jakarta. Apa yang menyebabkan mereka begitu taat aturan ya? Hhmmm.. I need to find the answer lewat tindakan mumpung di lagi disini. Tapi gaimana caranya ya?  'Mungkin, ini kesempatan aku utk mengetes dan menemukan jawaban itu'  aku membatin. Pasti petugas itu ada maksudnya berteriak berulang kali ' vehicle passengers only, pleeeeease' dengan nada terkadang agak kesal juga.  Aku mulai menurunin anak tangga mengikuti arus para penumpang lainnya. Sampai di deck paling bawah kudapati mobil berbaris berjejeran dan beberapa penumpang masuk ke mobil. Mobil pribadi atau mobil bus parawista. Aku mulai ragu akan langkahku. Aku lihat semua penumpang itu masuk ke dalam mobil atau bus. Aku paksakan diri menelusuri para penumpang itu, yang satu persatu menghilang masuk dalam kendaraan mereka. Aku sampai diujung kapal. Ternyat tidak ada jalan untuk keluar. Tidak ada lorong atau tapakan untuk pejalan kaki. Persis seperti suasana di gudang parkir mobil besar. ' Aduuh!!!  Gaimana ini. Jangan jangan perintah petugas tadi memang harus diikuti ya dan ini khusus untuk mereka yg berkendaraan." ‘Bau pesing lagi!” Aku bergumam. Ada rasa kesal tapi ada juga rasa senang karena mungkin aku mulai menemukan jawaban atas pertanyaan awalku tadi 'bagaimana kalau perintah atau aturan itu tidak diikuti'  Aku kembali ke tangga pintu turun deck.  
 
Aku melihat seperti seorang petugas parkir di mall mall di Jakarta. 'Excuse me, can u tell me where is the exit for pedestrian?' 'Sure, take the lift and get off at 7th floor and u'll find the exit'  Berarti aku harus kembali ke tempat aku antri tadi di dalam kapal. ’Aduh!! hmmm..benar deh, ini hanya untuk penumbang berkendaraan saja, tidak untuk pejalan kaki seperti aku” aku mulai menemukan jawabannya. Dalam lift itu, aku dapatkan empat turis berwajah oriental dan dua kakek nenek berwajah caucasian. Sepertinya mereka juga mengalami 'nasib' yang sama dengan aku.

Saat keluar dari pintu  bawah deck itu ,  aku melihat beberapa penumpang tadi yang bersama dengan aku tadi antri masih dengan sabar menunggu tanpa ada kegaduhan dan sangat tertib menunggu perintah dari petugas yang berteriak-teriak tadi.  Aha! Itu dia. Aku melanggar aturan dan tidak ikuti perintah, maka aku tadi hampir hilang di gudang yang penuh kendaraan di perut kapal itu. Gelap pula dan merasa tidak nyaman karena merasa sudah melanggar perintah petugas tadi.  Aku memojok saja dan menunggu perintah petugas kapal yang berbaju seperti pilot itu.

Akupun menyimpulkan sendiri, barangkali penduduk kota ini seperti penumpang dalam ferry interislanders ini. Aturan dibuat untuk ditaati, untuk kemudahan dan kepentingan bersama. Aturan dibuat bukan untuk dilanggar. Ketika coba-coba dilanggar, si pelanggar tidak menjadi hidupnya lebih baik atau lebih cepat atau lebih menang, tapi merasakan dampak buruk dari pelanggaran itu. Sistem dibuat sedemikian rupa untuk dihormati dan berlaku untuk semua.  Bagi pelanggar akan nyata mengalami konsekuensinya dari sikapnya tersebut. Thank you Ferry Interislander, thank you Wellington untuk pelajaran hidup hari ini.

Wellington, 16 Januari  2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar