"Vehicle
passengers only!!! Vehicle passengers only, pleeeeease!!!"
Dari
kapal kulayangkan mata ke jendela yang dekat aku berdiri. Wow! Langit biru. Air
bersih. Dermaga ini pun jernih sebening kaca, kapal2x kecil, yatch, berwarna
putih bersih berlabuh rapi dipinggir pelabuhan ini. Udara sore itu juga cukup
banyak disinari matahari dan membuat langit berwarna biru cerah dengan
diselingi awan2x putih seperti kapas putih bergerombolan. Aku semakin ingin
cepat keluar dari kapal ini dan segera berjalan kaki menelusuri pinggiran
pelabuhan kota ini. Tidak boleh terlewatkan. Kebiasaanku adalah berjalan kaki
berjam-jam di kota baru yang aku singgahi, apalagi jika kota dengan udara super
bersih dan sangat bersahabat dengan penjalan kaki. Sangat menyenangkan. Seperti
berjalan di alam mimpi, terutama bagi aku yang tinggal ditengah kemacetan dan
polusi Kota Jakarta. Jangankan manusia, lalatpun sepertinya enggan
meganggu orang di jalanan umum di kota sejuk ini. Benar-benar indah kota ini.
Tidak ada macet apalagi polusi yang merusak diri.
Pikiran
isengku mulai bermain-main mencoba test ini dan itu. Akun mulai berpikir.
'Apakah aturan disini memang harus diikuti? Kalau tidak gaimana? Apa
konsekuensinya? Bikin senang atau susah sebagai konsekuensinya' coba aja di tes
dari hal begini. Resiko ya tidak akan fatal, palimg diplototin atau dimarahin
petugas itu. Soalnya, setelah beberapa hari disini, aku sangat kagum
dengan perilaku penduduk negara ini, sejak kedatanganmu di Auckland, lalu ke
Tauranga kota kecil di pinggiran bagian ujung pulau bagian selatan hingga
Crhristchurch di bagian utara. Sangat sopan dalam menyetir mobil, pejalan
kakipun umumnya sangat patuh pada lampu dan marka jalan. Sungguh perilaku
mulia. Pengendara mobil menghormati pejalan kaki, pejalan kaki tidak serobot
jalan seenaknya. Memang sih tidak ada Bajaj dan sepeda motor yang bisa
seenaknya di jalan raya seperti di Jakarta. Apa yang menyebabkan mereka begitu
taat aturan ya? Hhmmm.. I need to find the answer lewat tindakan mumpung di
lagi disini. Tapi gaimana caranya ya? 'Mungkin, ini kesempatan aku utk
mengetes dan menemukan jawaban itu' aku
membatin. Pasti petugas itu ada maksudnya berteriak berulang kali ' vehicle passengers only, pleeeeease'
dengan nada terkadang agak kesal juga. Aku mulai menurunin anak tangga
mengikuti arus para penumpang lainnya. Sampai di deck paling bawah kudapati mobil berbaris berjejeran dan beberapa
penumpang masuk ke mobil. Mobil pribadi atau mobil bus parawista. Aku mulai
ragu akan langkahku. Aku lihat semua penumpang itu masuk ke dalam mobil atau
bus. Aku paksakan diri menelusuri para penumpang itu, yang satu persatu
menghilang masuk dalam kendaraan mereka. Aku sampai diujung kapal. Ternyat
tidak ada jalan untuk keluar. Tidak ada lorong atau tapakan untuk pejalan kaki.
Persis seperti suasana di gudang parkir mobil besar. ' Aduuh!!! Gaimana
ini. Jangan jangan perintah petugas tadi memang harus diikuti ya dan ini khusus
untuk mereka yg berkendaraan." ‘Bau pesing lagi!” Aku bergumam. Ada rasa
kesal tapi ada juga rasa senang karena mungkin aku mulai menemukan jawaban atas
pertanyaan awalku tadi 'bagaimana kalau perintah atau aturan itu tidak diikuti'
Aku kembali ke tangga pintu turun deck.
Aku
melihat seperti seorang petugas parkir di mall mall di Jakarta. 'Excuse me, can u tell me where is the exit for pedestrian?' 'Sure,
take the lift and get off at 7th floor and u'll find the exit' Berarti
aku harus kembali ke tempat aku antri tadi di dalam kapal. ’Aduh!! hmmm..benar
deh, ini hanya untuk penumbang berkendaraan saja, tidak untuk pejalan kaki
seperti aku” aku mulai menemukan jawabannya. Dalam lift itu, aku dapatkan empat
turis berwajah oriental dan dua kakek nenek berwajah caucasian. Sepertinya
mereka juga mengalami 'nasib' yang sama dengan aku.
Saat keluar
dari pintu bawah deck itu , aku melihat beberapa
penumpang tadi yang bersama dengan aku tadi antri masih dengan sabar menunggu
tanpa ada kegaduhan dan sangat tertib menunggu perintah dari petugas yang
berteriak-teriak tadi. Aha! Itu dia. Aku melanggar aturan dan tidak ikuti
perintah, maka aku tadi hampir hilang di gudang yang penuh kendaraan di perut
kapal itu. Gelap pula dan merasa tidak nyaman karena merasa sudah melanggar
perintah petugas tadi. Aku memojok saja
dan menunggu perintah petugas kapal yang berbaju seperti pilot itu.
Akupun
menyimpulkan sendiri, barangkali penduduk kota ini seperti penumpang dalam
ferry interislanders ini. Aturan dibuat untuk ditaati, untuk kemudahan dan
kepentingan bersama. Aturan dibuat bukan untuk dilanggar. Ketika coba-coba
dilanggar, si pelanggar tidak menjadi hidupnya lebih baik atau lebih cepat atau
lebih menang, tapi merasakan dampak buruk dari pelanggaran itu. Sistem dibuat
sedemikian rupa untuk dihormati dan berlaku untuk semua. Bagi pelanggar
akan nyata mengalami konsekuensinya dari sikapnya tersebut. Thank you Ferry
Interislander, thank you Wellington untuk pelajaran hidup hari ini.
Wellington,
16 Januari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar